Inspirasi

Tersirat Di Jendela Impian

Lapisan perak yang terbentuk menjadi sebuah piala kokoh itu kini berpijak dijajaran rak buku mba umay, setiap kali sebelum berangkat ia tersenyum memandanginya. Tak jarang pula ia membersihkannya, lantas berucap syukur setelahnya. Aku yang kini memandangi piala itu terbawa haru hingga sungai kecil dimataku mengalir sendirinya teringat perjuangan mba umay.

“Allahu Akbar..” terdengar isak tangis diruang sebelah. “Ah siapa lagi kalau bukan dia”, aku pun beranjak hendak menegurnya yang tengah mengganggu tidurku. Jemariku melayang hampir mengetuk pintu, namun lambat laun suara tangis itu kini mereda.

“Kraak”, pintu pun terbuka. Segera ku rebahkan tubuhku di kursi, mba umay pun keluar seolah tak terjadi apapun.

Ia pun tersenyum sambil berkata “Kenapa dek? Kamu lapar?”

Aku yang mendengarnya terperangah “hehe iya mba” ucapku.

Mba umay pun bergegas ke dapur lantas membuatkanku nasi goreng. Sementara ia memasak, perlahan aku mengintip ke kamarnya.

“Benar-benar seni..” gumamku.

“Jendela Impian” tema sebuah pohon di tembok kamarnya, disetiap ranting pohon itu terdapat sebuah kotak impian yang ingin dan telah mba umay raih. Iseng-iseng kubaca satu-persatu impian mba umay dari ranting terbawah.

Kotak Pertama,

“-22 Jan 2013, Mesjid Ar-Rahmaan.- Terimakasih Allah kau telah mengizinkanku untuk mengunjungi salah satu rumah-Mu di kota Hujan. Semoga kau mudahkan aku untuk mengunjungi rumah-Mu di Makkah. aamiin”

Kotak Ketiga,

“-13 Jun 2013, Study.- Kau tahu perjuangan ini tidaklah mudah, terimakasih telah memberikanku kesempatan untuk memperbaiki kekeliruan ku”

Semakin aku berdecak kagum membacanya, namun lagi-lagi aku terlalu gengsi untuk megakuinya, “ah lebay” ucapku. Segera aku kembali ke sofa. Mba umay pun menghampiriku sambil memberikan sepiring nasi goreng, kemudian ia pun beranjak pergi kembali ke kamarnya.

Mba umay memang termasuk orang yang cukup pendiam dan tertutup, ia hanya akan berbicara seperlunya dan nampak tenang ketika menghadapi sesuatu. Jauh berbeda denganku yang cukup periang, sosialis, dan cukup aktif. Jika ada berita bahagia dan bahkan sebuah masalah terbilang histeris sampai-sampai orang serumah tahu. Seringkali aku menganggap mba umay orang yang aneh karena senang pergi dari sebuah keramaian, ia kolot, gak modern, senang dirumah, benar-benar menyebalkan. Walau begitu, ia yang hanya tertaut 3 tahun denganku adalah sosok yang begitu penyayang dan dewasa. Apa-apa yang dipikirkannya hanya tentang kami keluarganya dan prestasinya. Benar-benar kolot. Sampai-sampai saking kesalnya karena ia begitu mengurusiku, aku berkata padanya “Apa mba ga punya sosok idaman yang perlu diurusi apa selain mengurusiku! Atau gak ada yang mau sama mba? Mba kolot sih, gak gaul. Cepet nikah gih mba!”.

“Tersenyum”, ya.. Ia hanya tersenyum mendengar ucapanku yang mungkin menyakitinya. Merasa puas sudah melontarkan ejekkanku, aku pun berlalu meninggalkan mba umay.

Seiring bergantinya hari, semakin membuat aku penasaran dengan kotak-kotak impian mba umay, terlebih rasa iriku semakin menjadi terhadapnya ketika ia mendapatkan sebuah kejuaraan Fisika Tingkat Nasional minggu lalu.
“Apa yang hebat darinya, dasar kolot” gumamku.

Mengetahui mba umay sudah beberapa hari tak dirumah karena mengunjungi rumah nenek di pedesaan, kesempatan pun seolah terbuka lebar, dan dengan mudahnya aku masuk ke kamarnya.
“Haha, mba umay.. mba umay. Maaf ya mba kuncinya bukan hilang, tapi ku ambil satu agar aku bisa dengan mudah masuk ke kamar mba” bisikku terkekeh.

Perlahan ku seret sebuah kursi untuk mengambil kotak selanjutnya,

Kotak ke-7, “Kebanggaan untuk Orangtua ku”

“Dulu ada seorang anak yang dipandangan orang lain begitu tak berguna bahkan menganggap dirinya bodoh, namun engkaulah yang menganggapku ada dan berharga. Jika bukan karena-Mu dan keluargaku, aku belum tentu mampu meraih ini semua. Terimakasih atas kasih sayangmu Allah, keluargaku.

Kotak ke-8, “Tersampaikan untuk Adikku, 30-02-2014”

“Dek, begitu mba menyayangimu. Maafin mba gak bisa jadi kakak yang baik buatmu. Mba hanya ingin agar mba pergi kelak, ada yang bisa menggantikan mba. Dek, mba yakin kamu anak yang cerdas, kamu hanya perlu berusaha seperti mba. Kamu ingat?

“Tetesan-tetesan air mampu membuat batu yang kokoh berubah bentuk.. sebesar apapun itu, bahkan ia mampu meghanyutkannya jika mereka terkumpul menjadi lautan.”

Seperti itulah kita, dan jadilah tetesan-tetesan air itu. Apapun perkataanmu terhadap mba, mba faham. Namun semua itu mba lakukan inshaaAllah untuk kebaikanmu juga, jadilah calon mujahid. Jadilah seorang pria yang tangguh, mampu menjaga diri dan keluarganya dengan baik, serta mengangkat derajat kedua orangtua sekalipun itu dengan akhlakmu. Semoga kelak kita bisa berkumpul kembali di surga-Nya”

Mataku berbinar, ah.. segera saja ku tepis. “Apa ini? Cengeng amat sih si mba ini”. Segera aku mengambil kotak selanjutnya, “Ah.. sebuah amplop lagi”, gumamku.

Kotak ke-9,“Tersampaikan untuk Orangtuaku”

“Biar aku lebih dahulu, inipun mimpiku”

Seringkali aku berpikir, anak penyakitan sepertiku apa bisa menjalani hidup lebih lama? Mewujudkan impian ku yang entah akan tercapai atau tidak.

Terhenti makanku, tertegun pandanganku saat bapak berkata “saat haidar nanti kuliah, apa masih keumuran ya”, akupun terdiam, lantas berkata hal yang sama “ iya, umay juga masih ga ya”, berbinar.

“Sesuatu yang tersembunyi pasti kan terungkap jua, meski cerita tlah usang dan jasad sang tokoh terkubur dunia.”

Maaf untuk merahasiakan ini semua,
Umay menyayangi ibu dan bapak..
Mohon maaf dari anakmu yang tak tahu akan balas budi ini.
Maafkan umay seringkali membuat bapa dan ibu khawatir.

Pak, bu.. jika lebih dulu umay meninggal, mohon maafkan umay, serta doakanlah umay selalu. Makamkanlah umay dengan sebaik-baiknya kesederhanaan, jangan memberatkan. Untuk yang terakhir kalinya umay tak ingin merepotkanmu bu, pak. Hanya itu yang umay harapkan darimu seorang ayah dan ibu yang berharga dimataku.

Kotak ke-10,

Tidak Di dunia, semoga Engkau mengumpulkan kami kembali di Surga-Mu.
Allah..
Jika Engkau masih memperkenankan kami
Jika Engkau masih akan melanjutkan skenario kami
Sesungguhnya aku dan dirinya juga tak akan tahu
Semua sudah menjadi misterimu
Allah..
Jika memang kemungkinan itu ada
Tolong sampaikanlah padanya..

Tertegun, terasa sesak.. Air mata pun seolah tak mampu lagi membendung, terlebih saat teringat kalimat-kalimat tajam yang aku lontarkan. Mungkin hatinya begitu pedih saat perasaannya hanya menjadi bisu karena kami.

“maaf mba umay.. maafin haidar”, isakku mencengkram kuat suratnya.

“Begitu Allah mencintaimu”, ucap ibu yang sedang mengelap piala milik anak perempuan kebanggaannya itu. Ku lihat ayah yang memandangi ibu dari jauh memancarkan binar matanya seolah tak kuasa melihat ibu.

Ku langkahkan kakiku menuju kamar mba umay, satu kotak terakhir tersimpan di ranting tertinggi.

Kotak ke-11.
Menjadi Bidadari Surga..

Pertemuan indah dengan-Mu dan Rasulullah amat ku rindukan. Rasanya seolah tak lama lagi aku berjumpa dengan-Mu. Penyakit ini mungkin akan memutuskan pertemuanku sementara waktu dengan orang-orang yang ku cintai didunia, namun juga sebagai penghubung pertemuanku dengan Kau Sang Maha cinta. Allah..

Akupun tersenyum, hanya mampu meng-aamiinkan impian terakhirnya. Kini tak ada lagi tangisanku, karena ku yakin inshaaAllah kau lebih tenang di sisi-Nya.

“Dek, mba tahu apa yang kamu sembunyikan. Namun kehilangan kunci itu bukan sepenuhnya sebuah ketidak sengajaan, mba hanya ingin menyampaikan sebuah pesan untukmu dan agar kamu bisa mengambil hikmah dari semua ini. Mba pun ingin menjawab pertanyaan yang sering kamu lontarkan, juga dari semua yang mba tulis ini.. agar kamu tidak menyesal karena kamu merasa tidak mengenal mba mu dengan baik. Terimakasih dek sudah membaca semua ini.”
-Khumaira.- tulisnya di secarik kertas didalam almari ku.

“Mba, andai mba tahu. Aku tak sepenuhnya berkata seperti itu. Maaf atas segala perkataanku yang sering menyakitimu. Kini aku memahami, mengapa kau seringkali mengingatkanku untuk beribadah serta belajar”, ucapku menghela.

Khumaira Huriyah, meski namamu kini terpampang diatas batu itu, namun sosokmu berbekas dalam kehidupan kami. Begitu kau membuatku iri sebab ibu dan bapak senantiasa membanggakanmu meski kini kau telah tiada.

Tak pernah ku sangka kepergianmu saat itu adalah kepergianmu untuk bertemu dengan-Nya. Terimakasih atas perjuanganmu selama ini untuk kami. Selamat jalan mba, semoga kau menjadi Bidadari Surga seperti impianmu.

 

Penulis

Anisa Istiani Solichah

ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on Pinterest

You Might Also Like

One comment

  1. 1
    akhmad sonny firmansyah

    selamat… teruslah belajar.. teruslah bekerja.. teruslah.. berkarya .. tingkatkan selalu kapasitas agar bisa memberi lebih banyak lebih banyak dan lebih banyak lagih.. doa ku menyertai kalian.

    sampai jumpa di surga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>