foto with bong chandra

Misi paling Mendebarkan

Saya termasuk orang yang suka mengikuti seminar, bisa dibilang ahlul seminar juga, hehe. Namun dari banyaknya seminar yang pernah saya ikuti, ada satu seminar yang menurut saya paling mendebarkan. yaitu saat menikuti Seminar Free Trial Class Billionaire School by Bong Chandra, di kantornya daerah Jakarta Barat. Terus ko bisa mendebarkan?? karena ada satu hal gila yang saya dan kedua teman saya lakukan pada seminar itu, ya cukup gila menurut saya dan nekad. Mau tau apa yang membuat saya bilang seminar ini paling mendebarkan? oke akan saya ungkap dibawah ini, blak-blakan, he

Who is Bong Chandra?

Siapa sih yang ga mengenal Bong Chandra? Saat sekitar tahun 2010-2012 dia termasuk salah satu motivator sekaligus pengusaha yang cukup terkenal di Indonesia waktu itu. Saya sendiri baru mengenal beliau sekitar awal tahun 2012, saat membaca buku pertamanya yang berjudul Unlimited Wealth, semenjak itulah saya sering mengikuti perkembangan beliau baik lewat facebook atau twitternya.

Sampai di akhir maret 2012, tak sengaja saya menemukan sebuah status diberanda yang isinya Bong Chandra akan mengadakan Free trial Class School of billionare di kantornya kawasan APL Tower, Jakarta Barat. Acaranya akan di adakan tanggal 1 April 2012, percis sekitar satu minggu lagi sebelum saya UN (waktu itu masih kelas 3 SMA) dan juga waktu itu keuangan lagi krisis. Bimbang memang waktu itu, apakah harus ikut atau tidak, namun saya memutuskan untuk ikut saja, ditemani dua orang teman saya, Iqbal dan Debi, kami pun langsung mendaftar.

Kegelisahan Itu…

Saya sangat kagum dengan beliau, diusianya yang masih muda dia sudah sukses luar biasa mempunyai perusahaan dibidang properti, dia sukses membangun proyek pertamanya senilai 180 milyar diusia 22 tahun, dan yang saya kagumi dari beliau juga, dia sudah sangat bisa membantu mencerahkan banyak orang, membantu membentuk mindset sukses mereka baik lewat buku, seminar atau trainingnya. Saya membayangkan, pasti begitu banyak pahala yang ia akan dapat kelak disurga nanti, karena bisa membantu banyak orang.

Namun, kegelisahanpun muncul ketika saya tau bahwa beliau adalah seorang non muslim, saya membayangkan kebaikan-kebaikan yang dia lakukan sirna tak bermanfaat diakhirat sekalipun karena ada yang kurang satu, IMAN. Ternyata kegelisahan yang saya rasakan itu bukan hanya saya saja yang merasakannya, namun kedua sahabatku juga, sehari sebelum berangkat, kami bertemu dulu di basecamp Komunitas Pemenang, membicarakan hal ini dengan guru kami, lalu guru kamipun menyuruh kita membawa misi, apa misinya? ikut membimbing pak bong membaca dua kalimah syahadat, ya dua kalimah syahadat, kamu ga salah dengar, sungguh inilah misi yang paling mendebarkan selama mengikuti seminar selama ini. Awalnya kami menolak, namun guruku bilang “katanya kalian kagum pada Bong Chandra, sayang pada bong Chandra, pasti takkan tega kan kalian kalau kelak diakhirat nanti kebaikan-kebaikan yang dia lakukan didunia ini sia-sia Cukup niatkan ini sebagai dakwah, kalau kalian menganggap bong Chandra itu besar boleh, namun harus lebih meyakini lagi kalau ada Allah yang Maha Besar” . setelah berdiskusi panjang tentang obrolan itu, lalu akhirnya kami yakinkan diri kami semua untuk membawa misi itu.

Perjalanan pun dimulai

Walaupun membawa uang seadanya, berbekal niat dan tekad yang kuat kami akirnya berangkat, dengan menggunakan kereta api dari sukabumi, dengan jadwal pemberangkatan pukul 05.00 pagi, otomatis kami semua harus bangun pagi-pagi. Rencana, kita semua akan berangkat dari stasiun cibadak Sukabumi, nah karena rumah saya paling jauh dengan stasiun itu, saya ke rumah teman saya dulu Debi, jadi kita berangkat bareng, sedang Iqbal menunggu di stasiun karena rumahnya dekat.

Saya kerumah debi sekitar pukul 04.00, setengah jam menunggu belum keluar juga, belum ada tanggapan apapun, sms ga dibales telpon ga diangkat, sedang jam sudah menunjukan pukul 04.30, ketika saya mengetrok pintupun dia belum keluar, ternyata dia kesiangan, lalu saya bilang “ayo deb cepet beres-beres, takut ketinggalan kereta, sudah setengah 5 lebih nih”. kita pun akhirnya berangkat menuju stasiun sekitar pukul 04.5o . Waktu yang 10 menit lagi menuju stasiun kereta membuat kita harap-harap cemas, takut ketinggalan, sedang iqbal disana sudah menanti juga bahwa sebentar lagi kereta akan berangkat, disepanjang perjalanan menuju stasiun kami tak pernah berhenti berdo’a berharap kereta belum berangkat, secara itungan normal, dari rumah debi menuju stasiun membutuhkan waktu sekitar 20 menit, sedang tadi kita berangkat cuman mempunyai waktu 10 menit, kitapun pasrah, kalau kereta sudah berangkat, mungkin kita akan naik mobil menuju bogor.

Sesampainya distasiun, benar saja kereta sudah  berangkat, namun masih berjalan pelan, iqbal yang sudah menunggu dengan cemas depan pintu stasiun langsung meneriaki kita untuk segera mengambil tiket darinya dan segera bergegas menuju kereta yang sudah mulai jalan, alhamdulillah sambil berlalri kita akhirnya bisa mengejar kereta itu, wow kaya di film-film aja dibenak saya, hehe. Namun ada hikmah yang membuat hati saya bergetar waktu itu, terasa sangat kekuatan do’a itu, secara logika, sebenarnya kita dipastikan terlambat, namun semua urusan ada ditangan Allah, alhamdulillah allah bantu kami.

Sampai di kota bogor sekitar jam 7 pagi, lalu kita istrirahat sejenak di masjid raya bogor sambil melepas penak dan shalat duha dulu, selepas shalat duha lalu kita bersantai sebentar diterasnya sambil menatap pemandangan gunung salak, indah nian. Disana kita semua saling bercerita impian masing-masing, saling mendo’akan sambil menatap pemandangan yang luar biasa itu.

Jam menunjukkan pukul 9 pagi, kami harus segera bersiap-siap karena acara akan dimulai pukul 11 siang nanti, kita pun segera melanjutkan perjalanan. kita dari bogor menuju jakarta naik jurusan bogor –  kalideres, karena tak sempat makan pagi, llau kami beli duru gorengan dan nasi uduk sebelum berangkat suapayta bisa dimakan nanti.

APL Tower, Kami datang

Selama diperjalanan menuju tempat acara, saya disuguhkan pemandangan kanan kiri dengan gedung yang menjulang tinggi, jujur karena saya pertama kali ke Jakarta ini, saya banyak memperhatikan apa-apa yang terjadi disekitar saya waktu itu, termasuk ketika memasuki kawasan APL Tower, hampir disana mayoritas semua pengusaha yang ada di gedung itu saya rasa non muslim dan sangat jarang sekali yang asli dari indonesia, bahkan disana sekedar untuk mencari mushola pun susahnya minta ampun karena tak ada sama sekali PETA di gedung itu. kami betiga semakin tertegun dan miris, banyak pengusaha luar disana dan yang sangat disayangkan kebanyakan pembelinya itu orang indonesia, menjadi budak dirumah sendiri 🙁

Melihat pemandangan itu, kami ingin bertekad untuk setidaknya mengimbangi para kapitalis, bertekad untuk menjadi seorang pengusaha yang bisa menjadi tuan dirumah sendiri, yang bisa membuat gedung yang dimana disitu Allah sangat diagungkan. bukan nomor sekiankan, sampai nyari mushola pun harus menelusuri semua penjuru gedung, karena tak ada petunujuk.

Oh iya, sampai disana kami lapar sekali, saat mau beli makan kami ingat karena sewaktu dibogor kami membeli nasi uduk serta gorengan, awalanya kami tak akan memakannya karena malu, semua orang yang makan disana makanannya pada mewah, sedangkan 3 orang pemuda ini makan hanya dengan nasi uduk yang dibungkus plastik hitam, yang pasti ketika memakannya akan jadi perhatian banyak orang, sempat akan mengurungkan niat untuk makan didalam gedung dan memilih untuk keluar dulu saja dari gedung itu, namun waktu yang semakin mepet juga menuju acara mengharuskan kita untuk segera makan, saat itu terjadi pergolakan dalam jiwa dan perut, antara malu dan laper, hehe. Akhirnya kami sepakat untuk makan didalam gedung namun mencari tempat yang agak sepi, tepatya kita makan pada waktu itu di pojok lorong lantai bawah. Saat asik makan disana, detak jantung kami bertiga tiba-tiba kencang karena mendengar ada suara orang yang datang mendekat kearah kami, dan benar saja seorang petugas mall memergoki kami yang sedang makan, malu memamg pada waktu itu, tapi karena saking laparnya kita tak memperdulikan itu, mungkin urat malunya sudah putus, hehe. Oh iya ada satu ucapan dari teman saya Iqbal waktu itu yang masih saya ingat, dia bilang gini: “Malu itu kalo kita berbuat dosa ke Allah, makan ngumpet-ngumpet gini mah ga dosa kan? jadi kenapa mesti malu?” akhirnya semenjak itu urat malu kita semakin kuat terlepas, hehe..

Free Trial Class School of Billionaire Bong Chandra

Tak menyangka, motivator yang saya kagumi itu, beberapa bulan sebelumnya saya masih melihatnya pada cover bukunya, sekarang sudah bisa melihat langsung, Aura Positifnya sangat kerasa. Alhamdulillah pada waktu itu juga kami bertiga bisa duduk paling depan, jadi bisa sangat dekat menyaksikan Bong Chandra tampil 😀

Bong Chandra on stage
Bong Chandra ketika memberikan materi

Saat sesi pertanyaan, kami semua bertekad untuk bisa terkenal pada acara itu, caranyamenjadi sapi ungu, hehe. Apa itu Sapi Ungu? itu istilah Bong Chandra yang intinya jadilah yang berbeda dari kebanyakan orang, Anti Mainstream. Cara pertama Menjadi sapi ungu waktu itu ialah terlihat dari raut muka, hanpir semua yang ikut disana itu matanya sipit semua, mungkin cuman kami dan beberapa peserta lain saja yang terlihat masih muka indo, hehe. Yang kedua, dengan aktif bertanya dan menyebutkan daerah asal dan menceritakan perjuangan datang ke acara ini. Setiap ada sesi bertanya, kami selalu menyebutkan nama dan asal daerah, sehingga pada waktu itu kami bisa dikenal hampir semua orang, he,

Dua jam sudah berlalu, acara akhirnya selesai, lalu kamipun teringat akan misi kami, yaitu mencoba membimbing Bong Chandra untuk mengucap Syahadat. Awalnya bingung langkah apa yang akan kita mulai, lalu kamipun sepakat, dengan mengajak dia untuk ngobrol dulu seputar bisnis dan kehidupan, disana kami bertiga, tak efektif rasanya ketika semua masuk ikut dalam pembicaraan, lalu kami putuskan bahwa Debi lah yang akan memulai obrolan dan mengajak bong chandra untuk ucapkan kalimat itu, sedangkan saya dan iqbal berada disamping kiri dan kanan mereka berdua, sambil berdzikir dan memantau, semoga dimudahkan dan tak terjadi apa-apa.

Debi in Action with bong Chandra
Bong Chandra dan Debi sedang dalam sebuah obrolan

Dalam foto itu, teman saya itu Debi sedang mencoba mengajak bong chandra untuk mengucap kalimat syahadat, diawali dengan bicara soal bisnis dan kehidupan, lalu debi ini berucap kepada bong chandra , “pak, sebelumnya minta maaf, bapak kan kelihatan selalu bahagia ya bisa mengisnpirasi dan membantu kehidupan banyak orang, boleh saya kasih tau rahasia kami juga untuk bisa selalu bahagia?”.

Jujur pada waktu itu jantung kami begitu berdetak kencang, saya dan iqbal hanya bisa berdzikir sambil berdo’a, semoga tak terjadi apa-apa. Lantas bong Chandra pun menjawab : “oh ya, tentu saja boleh, apa yang bisa membuat kalian bahagia?”

Lalu debi pun menjawab:”jadi gini pak, kami selalu mengucap kalimah, Ashadu Allaa ilaahaillallaah, Waashadu Anna Muhammadarrasulullah, bisa ikuti kalimah itu pak”

Ada sedikit keraguan pada wajah bong chandra untuk mengucapkan kalimat itu, namun setelah dibujuk oleh debi akhirnya bong chandra pun mengikutinya, tapi pada bagian ilaahaillallaah, dan Muhammadarrasulullah dia memelankan suaranya.

Setelah mengobrol, tak lupa kami pun pastinya mengajak bong Chandra untuk foto bareng, dan inilah sebagian dokumentasi waktu itu, hehe:

bong chandra dan para pemenang sejati
ketika meminta tanda tangannya, great momen 😀
Kantor Bong Chandra  Manbtap
foto depan kantor bong chandra, Breaktough Center

Saya sangat bersyukur akan pengalaman ini, sangat sekali banyak mendapatkan hikmah setelahnya, alhamdulillah. Memang sempat ada sedikit kekecewaan, namun tak apalah, ngobrol langsung sedekat inipun dengan bong chandra dan mengajaknya mengucapkan kalimah syahadat itu sangat membahagiakan, pengalaman paling mendebarkan dan terlupakan.

Ikhitar sudah kami lakukan, sepenuhnya masalah hasil kembalikan lagi padaMu, Terimakasih ya allah 🙂
See you at the top !

Leave a Comment