sintesa

Ijinkan Aku menjadi Santri

“Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati.. Yang selalu membunyikan cinta.. Kupercaya dan kuyakini murninya nurani.. Menjadi penunjuk jalanku… Lentera jiwaku”

Lantunan lagu Lentera Jiwa’‘ karya Mas Nugie ini begitu membuat saya begitu terhenyak di malam itu. Memang lagu ini menjadi salah satu lagu favorit saya karena maknanya yang begitu dalam, selalu saya putar ketika ingin berdialog dengan diri sendiri, mencari apa yang sesungguhnya saya cari didunia ini, bermuhasabah atas kejadian yang telah dilalui.

Tentang Harapan

Awal tahun baru, biasanya banyak harapan yang muncul di setiap diri sahabat semua mungkin, umumnya banyak orang mempunyai harapan semoga ditahun ini mempunyai kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya, termasuk saya sendiri. Tak dipungkiri memang, tahun 2014 termasuk tahun yang cukup membuat saya banyak mengalami kekecewaan, mulai dari tertipu bisnis, lanjut harus mengubur impian untuk kuliah, dan masih banyak lagi kejadian yang membuat saya hilang semangat, hilang harapan. Kekecewaan demi kecewaan kadang selalu hinggap didalam pikiran ini, terutama kecewa pada diri sendiri, saya sering merenung sendiri di kamar. Jadi pendiam. Susah tidur. Menangis entah berapa kali. Gelap, bahkan saya takut dengan masa depan saya sendiri. Saya tidak tahu mau kemana. Pernah merasakan cita-cita dari kecil hilang dalam sekejap? Impian yang selalu membuatmu bersemangat tiba-tiba menjadi impian yang kau benci? Rasanya sakit sekali dan membuat linglung. Ya saya pernah merasakannya itu.

 

Masih ingat waktu itu, ketika akhir November 2014, beberapa hari saya berada di Bandung karena ada urusan, waktu itu saya menginap di Masjid Daarut Tauhid Bandung, suasana yang begitu membuat damai, tak ayal membuat saya ingin menumpahkan segala beban yang saya pikir dan rasakan waktu itu, sehabis shalat subuh, tak tau mengapa, begitu nikmat waktu itu saya berdo’a hingga hati terasa tenang. Do’a dan harapan saya cukup sederhana waktu itu, semoga Allah menunjukkan jalan untuk membuat saya bisa berani bermimpi lagi, berani membuat harapan-harapan baru lagi.

Masih di Kota Bandung, saat itu saya bersilaturahim dengan sahabat saya, namanya Aqil, saat akan pulang, dia memperlihatkan sebuah video, saya pun agak penasaran video apa yang akan dia perlihatkan. Dan ternyata hanya empat lilin, ya hanya ada empat lilin dalam video itu, namun video itulah yang mampu membuat saya berani berharap lagi berani bermimpi lagi, saat setelah melihat video itu dalam hati saya berucap “mungkin ini cara Allah menjawab do’aku”. Bagi yang penasaran dengan videonya, silahkan klik link video inihttp://bit.ly/18fdnUJ , resapilah. (Big Thanks buat kang Aqil :), sudah mempertontonkan video itu, mungkin terlihat sederhana namun sebenarnya itu sangat  mengguncangkan jiwa, hanya Allah sebaik-baiknya pemberi balasan)

lilin kehidupan
qolbunhadi.com

 

Lilin Kehidupan

Allah Maha Tau, saya Maha galau. Allah tau kegalauan saya. Dipertengahan bulan Januari 2015, saya sedang asik mengobrol dengan salah seorang sahabat di rumah saya, Syarifnamanya, sambil membuka situs facebook, tak sengaja saya melihat diberanda ada yang menshare mengenai info tentang program Pelatihan Bisnis Online di Yogyakarta. Uniknya Pelatihan Bisnis online ini beda dengan umumnya, disana tak hanya belajar tentang pola-pola bisnis online, tak belajar hanya ilmu teknisnya saja, namun ilmu akhiratnya pun diajarkan seperti Tahfidz, Tahsin, kajian Tauhid, dll. Nama programnya adalah SINTESA(Sinergi Terpadu Santri).

Jujur info ini membuat saya cukup tertarik, namun saya masih bimbang karena ketika membaca lebih seksama, program ini lumayan cukup lama yaitu selama setahun, ditambah kebimbangan saya karena pada waktu yang bersamaan juga ada beberapa pilihan selain di Yogyakarta, niatan untuk merantau dikota lain.

Saat menceritakan program ini pada sahabat saya Syarif. Dia malah berkata “Yaudah ayo sekarang kita makan-makan ya, kamu yang traktir, kan ini sebagai salah satu bentuk syukur diawal”. Lalu tanpa pikir panjang sayapun menyetujui ajakannya, padahal waktu itu saya belum tentu daftar ikutan programnya, hehe -_- . (Big Thanks buat Bro Syarif  🙂 , mungkin karena ajakanmu juga untuk mentraktir dirimu -_-  bersyukur diawal, jadi saya dipermudah oleh Allah bisa lolos dan kini berada di sintesa, hanya Allah sebaik-baiknya pemberi balasan)

Waktu pendaftaran ditutup tanggal 31 Januari 2015, namun sampai tanggal 28 januari saya belum mendaftar sama sekali karena masih bimbang, dan setelah shalat istikharah serta bermusyawarah dengan keluarga, bismillah akhirnya saya mendaftar ditanggal 29 Januari. Waktu itu saya tak berharap lebih, jika diterima ya mungkin ini jawaban Allah atas segala kegalauan saya, kalaupun tidak diterima, mungkin Allah punya rencana yang jauh lebih baik untuk saya.

Sore hari ditanggal 30 januari 2015. Saya coba cek email, dan alhamdulillah lolos ternyata, yang berarti saya harus segera ke Yogyakarta, karena tanggal 5 februari harus sudah disana. Sempat ada ketidakyakinan apakah mau diambil atau tidak, mengingat waktu yang begitu mepet. Setelah istikharah lagi, Bismillah saya ambil juga.

Sekilas Tentang Perjalanan

Saya berangkat dari sukabumi tanggal 4 februari, naik bis rajawali pkl 15.00, perjalanan sekitar 13 jam, lumayan membutuhkan waktu yang cukup lama, namun sepanjang perjalanan saya sangat menikmatinya sekali. Setelah 7 jam perjalanan, rombongan bis kami beristirahat disekitar Tasikmalaya, istirahat sekitar 30 menit, lalu kami pun melanjutkan perjalianan, sampailah di Yogyakarta sekitar pukul 4 subuh.

Sesampainya di Yogyakarta, saya turun di pasar gamping, semua barang diturunkun, satu koper dan sebuah tas besar yang saya gendong cukup menyulitkan saya untuk berjalan, akhirnya saya memutuskan istirahat sebentar untuk memanjakkan badan yang kelelahan di sebuah kursi depan indomaret. Adzan subuh berkumadang begitu indahnya, ucap syukur saya dalam hati bisa diberi kesempatan oleh Allah menginjakkan kaki dikota ini.

Jam menunjukkan pkl 07.00 pagi, untuk pertama kalinya saya melihat suasana pagi Yogyakarta, dikota yang terkenal dengan julukan kota pelajar ini. Sungguh merupakan pengalaman yang luar biasa, begitu ramahnya kota ini, kesan pertama ketika saya melihat suasana pagi disini, oh ya yang saya kagum juga disini masih banyak dari anak-anak sampai usia parubaya, banyak yang menggunakan sepeda menuju tempat aktifitasnya. Ah Yogya, pasti akan banyak cerita yang akan terukir bersamamu (lebay, hehe). Semoga selama setahun kedepan kita bisa bersahabat yaa.

Awal bukan Akhir

Ya, ini bukanlah akhir. Ini baru awal. Jalan saya masih amat panjang. Ini baru pembukaan untuk kehidupan baru berikutnya, kehidupan yang menuntut untuk harus lebih disiplin, harus lebih dewasa, harus lebih rajin, dan siap dengan segala konsekuensi yang ada.

Saya sangat bersyukur juga, karena ketika berada disini, saya bisa menikmati indahnya bermimpi lagi, indahnya membuat harapan lagi. namun tentu, bukan hanya sekedar bermimpi, bukan sekedar membuat harapan, namun berusaha untuk mewujudkannya dengan Amalan melangit dan ikhtiar membumi, semoga. #Fight

Terakhir, sudah lama saya belum menyelamati diri saya sendiri. Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk belajar menyelamati diri sendiri, ‘Selamat ya Sofyan, tangkaplah mimpi-mimpimu juga harapan-harapanmu yang lain. Aku selalu bersamamu.’.

.

Terkadang kenyataan tak seperti apa yg kita harapkan. Apa yg membuat bertahan? Harapan2 baru yg kita ciptakan” #JayaYEA

 

 

 

 

1 thought on “Ijinkan Aku menjadi Santri

Leave a Comment